14 April 2022

Portofolio Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru Penggerak


LATAR BELAKANG

 Sekolah merupakan tempat pembentukan karakter bagi murid yang sangat memengaruhi perkembangan kognitif dan afektif dan psikomotorik murid. Sekolah juga merupakan rumah kedua bagi murid setelah rumah  tempat tinggalnya sendiri, dimana murid akan lebih banyak menghabiskan waktu efektifnya. Guru merupakan orang tua siswa yang mempunyai tupoksi untuk merencanakan, melaksanakan, menilai, menganalisis dan membimbing murid dalam mengembangkan potensinya. Berdasarkan penjelasana di atas sudah semestinya sekolah menciptakan wellbeing(kenyamanan) bagi murid untuk memperoleh perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik murid. Sekolah harus menyediakan  kenyamanan fisik juga kenyamanan psikologis bagi murid. Kenyamanan secara psikologis penting untuk didapatkan siswa sehingga siswa memiliki penilaian positif terhadap lingkungan sekolah (Nurdianti, Fajar, & Hannan, 2016). Hal utama yang dibutuhkan siswa dalam menempuh pendidikan selain lingkungan sekolah yang kondusif untuk menuntut ilmu, siswa juga membutuhkan lingkungan sekolah yang menciptakan kesejahteraan bagi kondisi psikologis siswa, karena kesejahteraan psikologis di sekolah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter siswa. 

Oleh karena itu, sekolah harus memiliki visi dan misi serta tujuan sekolah yang eksplisit mendukung terwujudnya wellbeing dan mendukung tujuan nasional pendidikan. Tujuan Pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah. Budaya sekolah berarti merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan di sekolah. Kebiasaan ini dapat berupa sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi. Hal ini berarti butuh partisipasi dari semua warga sekolah. 

Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat bertahap. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, guru hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam pengaruhnya untuk menjalani proses perubahan ini bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah.

Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam modul ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan.

IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Pembangunan sisi positif sesuai dengan lima tujuan guru penggerak, pertama mewujudkan profil guru yang dapat mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi, dan kolaborasi; Kedua, memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik; Ketiga, merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua; Keempat, mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi satuan pendidikan yang mengoptimalkan proses belajar peserta didik yang berpihak pada peserta didik dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar satuan pendidikan; Kelima, berkolaborasi dengan orang tua peserta didik dan komunitas untuk pengembangan satuan pendidikan dan kepemimpinan pembelajaran.

Berdasarkan pejelasan tentang funsi sekolah, manajemen pengembangan sekolah, dan tujuan guru penggerak, maka aksi nyata pada modul 1.3 ini yaitu visi guru penggerak akan fokus kepada revisi visi dan misi sekolah dan upaya untuk mewujudkan ketercapaian visi misi sekolah tersebut.

B.TUJUAN

Tujuan dari aksi nyata modul 1.3 yaitu visi penggerak adalah sebagai berikut:

1. CGP mampu membuat rencana manajemen perubahan untuk mewujudkan visi guru penggerak tentang sekolah yang ideal dan murid yang ideal

2. Mewujudkan wellbeing dari lingkungan pengaruh yaitu kelas

C. DESKRIPSI AKSI NYATA

Berdasarkan koneksi antar materi modul 1.3 dan tujuan aksi nyata, saya mengambil prakarsa perubahan mewujudkan pembelajaran yang menanamkan profil pelajar Pancasila. Prakarsa perubahan kita analisis melalui stategi manajemen perubahan bagja. Berikut adalah tautan manajemen perubahan bagja saya: https://www.youtube.com/watch?v=xp6FOlqkE1E

Adapun penjelasan aksi nyata modul 1.3 tentang visi guru penggerak adalah sebagai berikut:

1.      Budaya berbaris dan tebak-tebakkan

Kegiatan ini bertujuan untuk melatih siswa belajar disiplin dan mengecek kesiapan belajar siswa. Profil pelajar Pancasila yang ingin saya kembangkan adalah profil mandiri dan berkebinekaan global. Melalui tebak-tebakkan tentunya siswa akan mandiri untuk mempersiapkan diri dengan belajar. Sedangkan budaya baris menumbuhkan dimensi berkebinekaan global.

Adapun tautan pelaksanaan aksi nyata adalah sebagai berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=qlZ7ofSa5n0&t=208s

2.      Pembelajaran dengan variasi kegiatan bermain menyanyi, dan berfikir.

Kegiatan pembelajaran harus bisa memberikan olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga. Apabila guru bisa menciptakan suasana pembelajaran yang memberikan kegiatan bermain, menyanyi dan berfikir, siswa dipastikan tidak akan jenuh. Karena usia anak-anak masih membutuhkan kesenangan dalam bentuk kegiatan bermain dan bernyanyi. Kegiatan belajar yang dikemas dalam bentuk permainan dan bernyanyi diharapkan dapat menumbuhkan profil pelajar gotong royong dan kreatif. Karena kegiatan bermain membutuhkan kekompakkan tim sehingga sikap gotong royong dan kreatifitas dibutuhkan untuk menjadi pemenang.

https://www.youtube.com/watch?v=camcg39tB3k

3.      Budaya bertanya jika mengalami hambatan belajar

Ketika pembelajaran berlangsung, siswa membawa kesiapan belajar yang berbeda sehingga dimungkinkan mengalami hambatan belajar yang bervariasi. Hamabatan belajar ini harus dibantu oleh sesama teman atau tutor sebaya danbisa dimintakan solusi kepada guru. Apabila siswa berani bertanya diharapkan kesulitan belajarnya teratasi. Nilai profil pelajar Pancasila yang hendak dicapai adalah bernalar kritis.

 

4.      Menciptakan variasi dalam bentuk ice breaking dan Variasi Model Pembelajaran

Kegiatan variasi dalam pembelajaran digunakan untuk membebaskan potensi positif siswa sehingga mengurangi kebosanan. Variasi model pembelajaran dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.

Berikut ini adalah video tautan aksi nyata 1.3 :

https://www.youtube.com/watch?v=qlZ7ofSa5n0

D.  TOLAK UKUR KEBERHASILAN 

Tercapainya tujuan pembelajaran modul 1.3 yaitu manajemen perubahan menuju sekolah yang ideal dan siswa yang ideal

 Murid mengalami dampak langsung terhadap perubahan yang kita laksanakan

Murid dapat memberikan umpan balik saat atau setelah pelaksanaan kegiatan 

 E. TANTANGAN  KEGIATAN 

1.  Pandemi covid 19 membatasi waktu belajar tatap muka

2. Daya dukung berupa aset utama dan aset lainnya dalam mewujudkan aksi nyata

3. Keterbatasan CGP dalam mewujudkan aksi nyata yang harus mematuhi aturan protokol kesehatan


F. HASIL AKSI NYATA

Hasil dari aksi nyata modul 1.3 adalah pelaksanaan bagja yang direalisasikan dalam praktik bagja dan serangkaian kegiatan pendukung seperti review kurikulum sekolah 

Berikut tautan pelaksanaan aksi nyata : https://www.youtube.com/watch?v=Kth7Pi3wgZk&t=1046s


                                              Gambar Sosialisasi Aksi Nyata di grup whatsapp sekolah

G. REFLEKSI AKSI NYATA

Perubahan yang kita lakukan di sekolah tidak bisa langsung menuju lingkaran perhatian (tingkat sekolah). Kita harus melakukan perubahan dari lingkungan pengaruh (kelas). Apabila kelas kita bagus, siswa-siswanya memiliki karakter profil pelajar Pancasila, secara tidak langsung akan menarik lingkungan perhatian untuk berubah. Kita tidak boleh menyerah karena sulit menerapkan perubahan. Perubahan memerlukan proses untuk bisa dipetik hasilnya.

 


24 Juni 2019

Yuk Cegah Kemerosotan Moral Melalui Literasi Digital

Tidak bisa dihindari, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya media sosial membawa genderang perang kemerosotan moral. Secara kasat mata, kemerosotan moral dari media sosial belum disadari masyarakat. Karna masyarakat kita merasa nyaman ketika anak-anak dirumah bermain gawai. Orang tua zaman now cenderung khawatir ketika anak-anak bermain diluar dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Padahal bermain diluar membawa banyak manfaat bagi anak dibandingkan bermain di dalam rumah. Karena bermain di luar memberikan kekebalan sistem imun anak, meningkatkan kemampuan keterampilan hidup, dan membantu kreativitas anak.

Jadi ada baiknya  anggapan anak bermain di dalam rumah adalah aman kita kaji bersama. Pertama, anak bermain di rumah mencegah penguatan sistem imun dan penguatan tulang. Karena anak yang bermain di rumah tidak terpapar bakteri dan sinar matahari. Padahal bakteri dan sinar matahari membantu tubuh membentuk sistem kekebalan dan penguatan tulang melaui pembentukan vitamin D. Kedua, anak yang bermain di dalam rumah lebih sering bermain gawai, hal ini berbahaya. Karena pancaran radiasi sinar gawai merusak penglihatan anak dan memicu sel-sel kanker. Lebih berbahaya ketika akses gawai yang tidak terawasi membawa anak kecanduan permainan online dan konten pornogafi. Ketiga, anak-anak yang lebih banyak bermain di rumah tentu kurang mengenal lingkungan sekitar. Hal ini mengganggu tumbuh kembang kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Karena anak-anak yang lebih banyak bermain di dalam rumah kurang mengenali manfaat dan bahaya barang-barang di luar rumah, kurang mampu berkomunikasi dengan teman sebaya, dan kurang memiliki kepedulian terhadap sesama.

Mari kita kesampingkan sejenak perbedaan kita tentang manfaat dan bahaya anak bermain di dalam rumah. Karena saya sendiri berbeda dengan istri saya dalam memahami hal ini. Selanjutnya saya akan mengajak teman-teman mengenali bahaya kemerosotan moral dari sisi literasi dasar.

Teman-teman, sudah tahu belum literasi dasar? Saya yakin banyak yang belum tahu. Karena saya sendiri baru memahaminya ketika menjawab soal-soal ujian guru berprestasi pada tahun 2017. Alangkah kudet (kurang update) diri saya. Literasi dasar yang sudah didengungkan sejak tahun 2015 baru saya pahami pada tahun 2017. Itu pun mengenal karena harus baper (terbawa perasaan) karena tidak bisa menjawab isi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015.

Rasa baper membuat saya harus membuka laman google untuk mengurangi bad mood saya. Teman-teman, ternyata Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 itu berisi pedoman penumbuhan budi pekerti. Saya tentu kecewa tidak bisa menjawab soal yang seharusnya menjadi bahan bacaan saya.

Yang penting sekarang kita bersama-sama menjaga dan mengawasi anak didik kita, anak-anak kita, dan masyarakat di sekitar kita dari dampak negatif penggunaan gawai. Kenapa hal ini penting? Karena setiap orang dimanapun berada sekarang ini susah lepas dari gawai. Memang kemudahan-kemudahan yang ada digawai membantu kita. Tetapi ada ruang yang harus kita waspadai, yaitu dampak negatif penggunaan gawai secara berlebihan dan dampak negatif kemerosotan moral.

Teman-teman, sepuluh tahun, dua puluh tahun dari sekarang, keberlanjutan dan daya saing NKRI ditentukan oleh anak-anak kita. Anak-anak yang saat ini tidak bisa melepas gawai dari keseharian mereka. Anak-anak yang saat ini kita kenal sebagai generasi Z. Mereka lahir setelah tahun 1995-2011. Dan anak-anak generasi Alpha yang lahir setelah tahun 2011.

Anak-anak generasi Z dan generasi Alpha masih berusaha mencari jatidiri mereka. Mereka masih labil dan mudah meniru apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka pikirkan. Hal ini tentunya berbahaya jika tidak kita dampingi dalam menggunakan gawai. Tidak perlu lagi kita banyak berdikusi tentang kemerosotan moral. Sudah tidak relevan kita saling berbeda pendapat tentang boleh tidak nya anak menggunakan gawai. Kenapa? Karena masanya mereka tidak bisa dicegah dari menggunakan gawai. Alih-alih mencegah, mereka malah mendapatkan apa yang tidak mereka dapatkan diluar pengawasan kita.

Karena itu, saat ini diperlukan tindakan nyata untuk peduli terhadap orang-orang di dekat kita. Peduli mengawasi, menelusuri, memantau dan memberikan bimbingan terhadap kegiatan anak-kita dalam menggunakan gawai. Coba luangkan waktu sejenak untuk melihat berita-berita kriminal di media cetak maupun elektronik. Teman-teman akan menemukan bahwa kejahatan yang terjadi saat ini terinspirasi dari media elektronik.

Perundungan, pelecehan seksual, tindakan kriminal yang dilakukan masyarakat saat ini, bermula dari apa yang mereka lihat, mereka dengar akhirnya mereka pikirkan dan mereka lakukan. Itulah bahayanya gawai bagi anak-anak kita.

Sekarang bagaimana cara mencegah kemerosotan moral yang telah mengintai dan menjangkiti sebagian besar anak-anak kita? Aksi nyata kita adalah peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Selanjutnya kita kenalkan literasi digital. Kenapa literasi digital? Karena literasi digital merupakan usaha preventif dan kuratif untuk mengajak anak memanfaatkan gawai secara tepat.

Literasi digital merupakan bagian tidak terpisahkan dari literasi dasar. Sudahkan teman-teman mengetahui literasi dasar! Jika belum, mari luangkan waktu teman-teman untuk berselancar di laman gerakan literasi nasional. Di laman ini kita akan menemukan enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengenalkan literasi digital. Namun upaya-upaya tersebut belum masih sekadar "hangat-hangat tahi ayam". Artinya ada keinginan untuk melakukan perubahan atau tindakan nyata tetapi belum terealisasi sampai ke level lapisan paling bawah masyarakat kita.

 Apakah tidak ada literasi digital yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat kita. Sudah ada, salah satunya pembatasan akses laman-laman pronogafi, laman kekerasan oleh penyedia layanan internet. Tapi sudahkah efektif? Belum, karena ada saja cara untuk membuka celah pembatasan tersebut. Jadi saat ini kita perlu terus-menerus menularkan manfaat-manfaat gawai  secara terstruktur, sistematis dan masif. Dan mencegah dampak negatif penggunaan gawai dengan mengenalkan akibat-akibat mengakses informasi negatif dari dunia maya.

Saya salut dengan saluran youtube "pol apike" dan program televisi "Bocah Ngapa(k) Ya" disalah satu televisi nasional. Saluran youtube dan program acara tersebut konsisten mengajak masyarakat kembali ke budaya lokal. Setiap tontonan dalam program tersebut tidak menampilkan penggunaan gawai. Karena mereka mengajak masyarakat untuk kembali ke permainan tradisional dan masa-masa masyarakat belum menggunakan gawai. Inilah tontonan yang juga tuntunan, tayangan positif yang bersifat komedi yang menjadi #sahabatkeluarga dalam mengenalkan kearifan budaya lokal.

Salah satu BUMN kita yaitu telkomsel telah melakukan upaya literasi digital melalui program internet baik telkomsel. Program CSR telkomsel ini menyasar masyarakat dewasa untuk melihat peluang penggunaan internet dari sisi positif dan mengajak masyarakat memahami bahaya internet.

Jadi literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam memanfaatkan piranti-piranti digital secara tepat. Melalui literasi digital kita budayakan #literasikeluarga anak untuk memahami bahwa pembatasan dalam penggunaan gawai bertujuan untuk menjaga masa depan mereka. Kita luangkan waktu untuk mengawasi dan menelusuri akses anak-anak kita terhadap dunia digital. Dan kita berikan hukuman dan bimbingan secara benar ketika anak-anak mengakses konten-konten negatif. Bagaimana caranya? Kita ajak bicara empat mata lalu kita sampaikan bahaya yang mengintai mereka ketika mengakses konten-konten negatif. Mari kita peduli secara benar sebagai orang tua dengan membiasakan anak bermain tanpa menggunakan gawai. Kita luangkan waktu bercengkrama dengan orang-orang yang kita cintai untuk membiasakan tidak menggunakan gawai.#sahabatkeluarga








20 September 2018

CEGAH STUNTING DENGAN KEPEDULIAN

Isu Stunting dan gizi buruk membuat heboh negara kita pada awal tahun 2018. Sejak disampaikan Lula Kamal melalui iklan televisi, stunting memicu rasa penasaran masyarakat. Iklan televisi ini menarik perhatian masyarakat karena diikuti istilah kematian. Isu ini tidak bisa dianggap remeh karena memungkinkan terjadi di desa maupun kota. Akibat iklan merk obat cacing ini, seluruh komponen masyarakat lebih tanggap terhadap kesehatan keluarga terutama kesehatan ibu hamil dan balita. Implikasi negatifnya adalah masyarakat cemas karena isu stunting dikaitkan dengan isu kematian. Namun kreativitas pembuat iklan perlu kita apresiasi karena memberikan wawasan untuk membiasakan hidup sehat. Iklan ini juga memicu kepedulian pemerintah untuk lebih serius memperhatikan hak masyarakat dalam memperoleh kesejahteraan dan kecukupan gizi.


Stunting sebenarnya bukan hal baru karena banyak terjadi di masyarakat. Stunting atau gagal tumbuh merupakan ancaman serius bagi masa depan bangsa dan negara. Karena prestasi bangsa dimasa depan ditentukan oleh kualitas generasi yang melanjutkan estafet kepemimpinan. Apabila stunting dan gizi buruk terjadi dan tidak tertangani, tentu beberapa dekade lagi negara kita memiliki warga negara yang lemah fisik dan psikis. Hal inilah yang membuat pemerintah lebih mafhum dalam menangani isu-isu sosial terutama stunting.

Isu lainnya selain stunting adalah  gizi buruk di Papua. Isu ini bahkan  viral di media cetak dan elektronik. Ketua BEM UI Zaadit Taqwa  memberikan kartu kuning kepada Presiden Jokowi untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan dalam menangani gizi buruk di Papua. Berkat aksi Zaadit tersebut, masyarakat sadar dan peduli terhadap isu gizi buruk saudara-saudara kita di Papua.. Beberapa waktu isu ini meledak dan menjadi sorotan media cetak maupun elektronik. Akhirnya masyarakat sadar bahwa isu gizi buruk dan stunting memang terjadi disekitar kita, tidak hanya di pelosok tapi juga di kota.

Jika isu stunting dan gizi buruk kita dibiarkan,  tentu membawa dampak sistemik terhadap kehidupan masyarakat. Pertama menunjukkan kurangnya kepedulian masyarakat dan negara terhadap hak atas kecukupan pangan dan terbebas dari kelaparan.Kedua menunjukkan ketimpangan pembangunan dan pemerataan hasil pembangunan terutama dalam distribusi pangan. Ketiga menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengendalikan harga pangan. Keempat menunjukkan ketimpangan sosial dalam masyarakat. Kelima menunjukkan tingkat kemiskinan masyarakat.

Menindaklanjuti keprihatinan masyarakat tentang isu stunting, berbagai lembaga bergerak untuk membantu mengentaskannya. Salah satu kegiatannya adalah pelaksanaan evidence summit untuk mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. AIPI dengan dukungan USAID melalui URC-TRAction dan MCSP-Jhpiego menyelenggarakan Evidence Summit untuk Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia (selanjutnya disebut Evidence Summit). Kegiatan dilaksanakan sejak Juni 2016 hingga Maret 2018. Evidence Summit bertujuan mengumpulkan seluruh bukti yang relevan dengan faktor penentu angka kematian ibu dan bayi. Bukti-bukti yang ditemukan selanjutnya disintesis dan diterjemahkan menjadi usulan rekomendasi berbasis bukti sebagai dasar bagi pemangku kepentingan untuk menyusun kebijakan dan aksi lanjutan dalam upaya mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia.

Penanganan masalah stunting sebenarnya sudah dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi melalu program-program kerakyatan. Salah satu program pemerintah terkait isu stunting adalah Kartu Indonesia Sehat, Program Keluarga Harapan, dan Beras Sejahtera. Melalui program ini diharapkan masyarakat kurang mampu khususnya ibu hamil dan balita bisa tercukupi kebutuhan pangan dan gizinya.Lebih serius lagi, pemerintah meningkatkan jumlah bantuan keluarga harapan menjadi dua kali lipat. Selain itu pemerintah mengingatkan agar dana program perlindungan sosial yang meliputi dana desa, subsidi, bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), bantuan sosial pangan, program keluarga harapan, Bidikmisi, dan Program Indonesia Pintar agar diawasi penggunaaanya. Melalui peningkatan dan pengawasan penggunaan program perlindungan sosial, diharapkan nawacita Presiden Jokowi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat betul-betul tercapai.

Mendukung program kerakyatan dalam mengatasi ketimppangan sosial, BKKN menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional Koalisi Kependudukan dalam upaya pembangunan infrastruktur sosial yang berkeadilan untuk percepatan pembangunan manusia.Melalui kegiatan ini diharapkan masalah-masalah pembangunan infrastruktur sosial dapat diatasi sehingga rencana aksi percepatan pembangunan manusia segera tercapai.

Sebagai masyarakat awam kita tidak perlu masygul atas isu stunting dan gizi buruk. Sekarang negara kita memerlukan persatuan dalam menangani berbagai permasalahan sosial di negara kita. Pemerintah sebagai pihak yang dievaluasi seharusnya berterima kasih terhadap isu-isu yang muncul di masyarakat. Karena isu bisa dilihat dari dua sisi. Pertama isu tersebut memang betul terjadi di masyarakat kita. Kedua isu tersebut tidak terjadi atau dimungkinkan terjadi jika tidak ditindaklanjuti. Keberadaan media sosial Facebook, Whatsapp, Youtube, dan lainnya yang muncul bersamaan perkembangan teknologi menjadi wadah munculnya isu-isu sosial. Dan kita harus cermat dalam menerima isu-isu sosial yang muncul dari media sosial. Pemerintah harus mensosialisasikan bahaya berita hoax agar isu-isu sosial tidak meresahkan masyarakat. 

Usaha pemerintah dalam memunculkan start up-start up berbasis android dan internet juga membantu mengatasi keresahan masyarakat dalam menghadapi isu sosial. Sebagai "smart city", DKI Jakarta memberikan aplikasi CROP ( Cepat Respon Opini Publik ), LAPOR ( Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Masyarakat) dan Qlue ( media komunikasi masyarakat untuk melaporkan dan memantau isu sosial). Aplikasi-aplikasi sejenis juga menggunakan media cetak dan elektronik. Jadi kemajuan teknologi yang diikuti kemudahan penyampaian aspirasi masyarakat seharusnya bisa digunakan secara bijak. Opini-opini publik harus disuarakan sesuai wadahnya agar permasalahan sosial di masyarakat segera teratasi.

Selanjutnya kita gali lagi masalah isu stunting. Stunting menurut buku TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun. Stunting terjadi karena faktor anak dan ibu. Dari sudut pandang anak, stunting di sebabkan kekurangan gizi terutama protein, infeksi kronis pada awal petumbuhan, berat badan kurang ketika lahir, gangguan hormon,  kekurangan vitamin D, dan kondisi sanitasi tempat tinggal yang kurang baik. Dari sudut pandang orang tua, stunting disebabkan karena kehamilan usia dini, kurang asupan gizi, pola makan yang tidak sehat seperti suka merokok, minum-minuman keras, makan makanan yang kurang sehat, buruknya sanitasi tempat tinggal ibu hamil, dan gangguan psikis ibu hamil.

Lalu bagaimana ciri-ciri stunting? Anak yang mengalami stunting baru kelihatan setelah berumur 2 tahun. Ciri-ciri yang nampak adalah tinggi badan yang kurang dari tinggi normal sesuai usia anak. Sedangkan secara psikis, anak stunting akan mengalami keterlambatan belajar.

Sekarang kita belajar bagaimana cara Pencegahan Stunting? Stunting bisa dicegah dengan kepedulian kita kepada ibu hamil dan balita. Pertama mengkapanyekan gerakan menanam lumbung hidup. Lumbung hidup seperti sayur-mayur bermanfaat untuk menambah kecukupan gizi ibu hamil. Sehingga akan lebih baik jika lahan-lahan tidur di desa atau kelurahan di kelola untuk lumbung hidup dan apotek hidup. Kedua melaporkan ibu hamil yang kurang mampu untuk mendapatkan jaminan sosial PKH. Pemerintah memberikan bantuan sosial kepada ibu hamil namun sering kurang mencakup semua warga. Masalah ini biasanya disebabkan karena malu melaporkan diri kepada pihak terkait. Ketiga memberikan penyuluhan pra nikah dan penyuluhan-penyuluhan sejenis tentang pentingnya kesehatan ibu hamil. Keempat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sesama melalui lumbung desa/kelurahan. Ibu hamil dan balita mengalami kekurangan gizi karena rendahnya daya beli atau ketiadaan sembako. Keempat mengadakan perbaikan rumah dan perbaikan sanitasi lingkungan tempat tinggal masyarakat kurang mampu. Kelima mengkampanyekan pentingnya imunisasi dan pola hidup sehat. Melalui imunisasi sejak dini, anak-anak terhindar dari infeksi kronis seperti campak. Sehingga kesehatan dan pertumbuhannya tidak terganggu. Keenam memberikan pelatihan kerja terhadap suami ibu hamil dan masyarkat yang memperoleh penghasilan bulanan kurang layak. Melalaui pelatihan kerja diharapkan masyarkat dapat menambah pendapatan dengan memperbaiki keterampilan.

Melalui penanganan yang tepat dan peran serta kita dalam menyukseskan kampanye melawan stunting, diharapkan Indonesia Sehat generasi emas bisa tercapai.

Sumber: 
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/rilis-media/
http://www.tnp2k.go.id/images/uploads/downloads/Buku%20Ringkasan%20Stunting-1.pdf


18 Juli 2014

ADMINISTRASI SEKOLAH DAN PEMBERKASAN SERTIFIKASI

Pembagian tugas mengajar guru, struktur kurikulum, jadwal pelajaran, distribusi pembagian tugas merupakan contoh file yang harus dibuat pada awal tahun pembelajaran. Administrasi ini juga diperlukan dalam pemberkasan sertifikasi guru. Silakan di download dan disesuaikan dengan keadaan sekolah masing-masing.

Download:
Pembagian Tugas Mengajar (lampiran pada contoh tidak dipakai saat sertifikasi)

Lampiran 1.1 -1.2 Daftar Pembagian Tugas dan Bimbingan

Lampiran 1.3 Jadwal pelajaran

Distribusi pembagian tugas

Struktur Program kurikulum